Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan " Profesional, Sinergi, Dan Militan " Pengaduan Masyarakat melalui Telepon (021) 65867510/11, Whatsapp (085289000115), E-mail : Pengaduan@basarnas.go.id


Seluruh Korban Gempa Lombok Ditemukan, Operasi SAR Ditutup


LOMBOK - Dengan berhasil dievakuasinya 3 korban tertimbun tanah longsor di Dompo Indah Kecamatan Kayangan Lombok Utara, Kamis (16/08/2018) siang, operasi SAR pun dinyatakan selesai. Namun, tim SAR dari Kantor SAR Mataram tetap siaga dan standby 24 jam untuk memantau perkembangan lebih lanjut di Lombok Utara dan sekitarnya sampai masa tanggap darurat selesai, tanggal 25 Agustus 2018.

"Kami tetap siaga, siap menerima laporan jika masih ada korban atau masyarakat yang harus dievakuasi," ungkap SAR Mission Coordinator (SMC) I Nyoman Sidakarya yang juga Kepala Kantor SAR Mataram didampingi Kasubsiops Muchdar, selaku On Sciene Coordinator (OSC). Sementara itu, para rescuer BKO dari Kantor SAR Denpasar, Kantor SAR Kupang, Kantor SAR Surabaya, Kantor SAR Jakarta, dan tim asistensi dari Kantor Pusat Basarnas berikut tim Basarnas Special Group (BSG) telah kembali ke markasnya masing-masing.

"Yang pasti sudah tidak ada lagi target operasi SAR di Lombok Utara, selanjutnya kami memantau perkembangan dan koordinasi dengan Kantor SAR Mataram ," tegas Direktur Operasi Brigjen TNI (Mar) Bambang Suryoaji didampingi Kasubdit Pendalian Operasi dan Pengerahan Potensi, Agus Haryono. Paska gempa, memang sudah tidak ada lagi operasi SAR dengan skala high quality. Operasi SAR di Dusun Dompo Indah dan Rempek adalah 2 lokasi terakhir dengan tingkat kesulitan cukup tinggi. Di Dompo Indah, 4 korban dari 2 rumah tertimbun tanah longsor.

Tanah atau daratan yang longsor adalah tanah di belakang rumah para korban atau perkampungan yang sebenarnya masih ada sisa kebun atau pekarangan sekitar 25 meter dari bibir tebing setinggi 40 meteran. Dasar tebing tersebut adalah sungai. Longsor akibat gempa bermagnetudo 7.0 SR itu kemudian menggerus dan merontokkan tanah jenis tanah pasir tersebut, persis pada batas rumah korban. Korban pertama seluruh rumahnya longsor, dan korban kedua separuh rumahnya saja yang longsor. Korban pertama atas nama Muhidin (33), diketahui sedang buang air besar di kamar kecil rumahnya saat gempa terjadi. Saat ditemukan, posisi korban ayah satu anak yang berprofesi sebagai sopir truk dengan ciri berambut gondrong dan hobi memelihara burung dan tanaman bonsai tersebut masih dalam posisi jongkok tak bernyawa.

Sedangkan rumah kedua ada 3 korban, yaitu Lalu Hendra (33), dan dua anak laki-lakinya, Lutfi (9) dan Fatih yang baru berusia 1 tahun 7 bulan. Ketiga korban ditemukan tak bernyawa dengan lokasi berdekatan. Informasinya, saat kejadian, sang ayah yang pegawai honorer bagian data base pegawai di Kabupaten Lombok Utara tersebut tengah mengimput data. Saat gempa terjadi, korban sempat keluar rumah, lalu kembali masuk untuk menolong anak-anaknya. Sambil menggendong bayinya dan menuntun anaknya, ia berlari ke belakang rumah untuk menyelamatkan diri. Naas, gempa hebat itu justru merontokkan seluruh tanah di belakang rumahnya dan memotong sebagian rumhnya ke dasar tebing sungai. Sang pegawai honorer dan dua anaknya tersebut jatuh dan terkubur tanah longsor. Lalu dimana istrinya? Saat kejadian, sang istri sedang berbelanja dan beli pulsa di warung depan rumahnya.

Longsoran tanah itu membentuk tebing baru, tebing vertikal setinggi 50-an meter dari dasar sungai. Longsoran tanah di dasar sungai menumpuk, membentuk 2 gundukan menyerupai bukit. Tidak hanya itu, pada tebing vertikal itu terlihat jelas siluet retakan-retakan besar, bahkan mengular sampai jalan aspal di depan dusun tersebut. Tentu saja, kondisi tersebut sangat membahayakan tim SAR yang mencoba mengurai tanah longsor dari dasar tebing dimana tim SAR menggunakan penyemprot air (alkon), alat berat eksavator, maupun peralatan konvensional seperti cangkul dan sekop. Pasalnya, masih ada gempa susulan dengan magnetido yang tidak dapat diprediksi. Yang jelas, gempa-gempa susulan tersebut sangat berpotensi menimbulkan longsor susulan yang dapat mengumbur para rescuer yang tengah mencari korban.

"Kalian adalah pahlawan-pahlawan kemanusiaan. Kalian bekerja dengan gagah berani, mempertaruhkan nyawa kalian untuk menolong sesama, saya salut dan saya memberikan apresiasi atas dedikasi kalian dalam melaksanakan tugas melayani masyarakat," tegas Kabasarnas Marsdya TNI M Syaugi saat melihat dan memimpin langsung proses pencarian 3 korban dan evakuasi korban Muhidin di lokasi longsor Dusun Dompu.

Tingkat kesulitan tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI-Polri, Damkar, serta potensi dari berbagai unsur masyarakat itu juga harus mengadapi cuaca yang panas menyengat dan berdebu di Dompo. Sementara di Rempek, tim SAR harus menghadapi medan ekstrem. Mereka harus jalan kaki selama kurang lebih 1,5 jam untuk mencapai lokasi. Akses jalan terputus akibat longsor. Tim membawa peralatan seperti chainsaw dan BBM serta peralatan konvensional melalui jalan setapak dan menaiki bukit dengan kemiringan 60 derajat. Sedangkan kanan maupun kiri terdapat bukit dengan batu-batu besar yang sudah longsor menutupi jalan setapak maupun yang masih menempel pada dinding bukit yang labil.

"Lokasi pencarian memang berada di atas bukit diantara 2 bukit yang berbeda seperti huruf V. Rumah korban yang sebelumnya berada di atas bukit bisa bergesar ke bukit satunya karena longsor yang terjadi dengan jarak sekitar 600-an meter dari posisi pertama. Bagaimana itu bisa terjadi, kami sendiri juga heran dengan fenomena alam tersebut," jelas Agus Haryono. Medan yang berat dan kondisi alam cukup ekstrem itu tidak menyurutkan semangat tim SAR dari Basarnas, TNI-Polri, K-9 Ditsatwa Polri, dan potensi dari unsur masyarakat. 2 korban, atas nama Jadab (60) dan Syaiful Bahri (30), yang terkubur di area longsor itu akhirnya berhasil ditemukan dan selanjutnya diserahkan ke pihak keluarga.

"Pekerjaan SAR memang tidak mudah, selalu beresiko. Kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh Potensi SAR yang telah bersama-sama kami mencari, menyelamatkan, menolong, dan mengevakuasi saudara-saudara kita yang sedang dilanda gempa di Lombok Utara," pungkas Direktur Operasi. Operasi tim SAR di Lombok Utara boleh rampung. Bukan menutup buku, tetapi tinta dari pena tim Basarnas lainnya, di 38 Kantor SAR yang tersebar di seluruh tanah air, tetap menorehkan tintanya pada lembaran halaman-halaman baru dalam sebuah buku tentang tugas-tugas kemanusiaan dengan segala dinamikanya. (ab)



Kategori Berita Kansar , General Berita , Bencana Nasional .
Pengunggah : nita
16 August 16:55 WIB