Jakarta -- Kamis, 28 November 2019 keluarga besar Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan ( Basarnas ) mengikuti kegiatan pengajian dalam rangka memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasalam. Acara dilaksanakan di Ruang Serba Guna Lantai XV Gedung Basarnas. Acara ini dihadiri oleh Kepala Basarnas beserta para pejabat dan pegawai Kantor Pusat Basarnas serta Ibu Ketua Dharma Wanita Persatuan Pusat beserta pengurus dan anggotanya. Kegiatan yang penuh berkah ini menghadirkan penceramah Ust. DR. Anwar Sanusi dari Bogor.
Kepala Basarnas Marsekal Madya Bagus Puruhito menyampaikan dalam sambutannya, arti, makna, dan hikmah Maulid Nabi Besar Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wasalam sangat penting untuk dikaji, ditelaah dan diselami bersama, agar perayaan dan tradisi peringatan ini tidak sebatas pada seremonial belaka, tetapi mengandung makna yang filosofis- subtantif. Maulid sama artinya dengan Milad yang diambil dari bahasa Arab dengan arti hari lahir.
Menurut Ust. Anwar dalam ceramahnya, peringatan ini menjadi tradisi bukan semasa beliau masih hidup, namun tradisi ini dimulai sekitar abad ke-7 Hijriah atau sekitar 700 tahun setelah beliau (Rasulullah) wafat oleh Raja Irbil, Muzhaffaruddin Al Kaukabri. Perayaan tersebut berkembang luas di masyarakat, khususnya dalam kehidupan Umat Islam dari berbagai belahan dunia termasuk Indonesia, sebagai Negara dengan pemeluk islam terbesar di dunia. Diharapkan dengan peringatan ini umat Islam dapat mengingat kembali betapa gigihnya perjuangan beliau dalam merintis dan mengembangkan ajaran Islam ditengah tradisi budaya Arab yang kala itu dalam keadaan jahiliyah.
"Peringatan ini diharapkan juga dapat menjadi lentera bagi umat Islam dalam meneladani sikap dan perbuatan, terutama akhlak mulia nan agung dari baginda Nabi Besar Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wasalam," kata Kabasarnas.
Kabasarnas juga menegaskan bahwa perayaan maulid nabi harus kita resapi dalam hati yang paling dalam, betapa hebatnya perjuangan Beliau yang terangkum dalam sebuah momentum spiritual hingga mentasbihkan beliau sebagai Figur Tunggal yang mengisi pikiran, hati dan pandangan hidup kita.
Peringatan ini juga sebagai perenungan dan pengisian batin agar Tokoh Sejarah tidak menjadi "fiktif" dalam diri kita tetapi benar- benar secara konkret.
"Bersalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya," pesan orang nomor satu di Basarnas tersebut.
Peringatan maulid nabi dianggap sebagai ungkapan kegembiraan umat yang beriman dan bertaqwa atas lahirnya Nabi terakhir, Sang Cahaya Alam Semesta, selanjutnya dapat meneguhkan kembali Kecintaan kita kepada Rasullah. Hal tersebut adalah sebuah keniscayaan, sebagai konsekkuensi dari keimanan kita sebagai umat muslim. Sesuai dalam Firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam Al Qur’an Surat Al- Ahzab ayat 21 yang berbunyi, “ Sesungguhnya telah ada pada diri Rasullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang berharap Rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah."
Kabasarnas kembali mengingatkan pesan Rasulullah sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya seperti tertulis dalam hadist Rasul bahwa beliau bersabda, “Aku tinggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat dengannya, yakni kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallahu ‘Alaihi Wasalam”.


