JAKARTA – Indonesia sebagai salah satu anggota dari organisasi International Search and Rescue Advisory (INSARAG), sudah saatnya memiliki tim SAR yang khusus menangani bencana perkotaan atau lebih dikenal dengan Urban SAR (USAR) kelas dunia. Untuk dapat memiliki level tersebut, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bersama beberapa instansi potensi terkait yang tergabung dalam Indonesia SAR (INASAR) mengikuti penilaian INSARAG External Classification (IEC).
 
Perjalanan IEC sendiri dimulai sejak awal tahun 2017 ketika penandatanganan MoU dengan Angkatan Pembangunan Sipil Singapura. Sejak saat itu, tim INASAR bekerja keras untuk menyelesaikan pelatihan dengan kualifikasi IEC yang sudah ditentukan. Berbekal level medium class, tim INASAR nantinya dapat terlibat membantu negara lain yang mengalami bencana Urban SAR.

Dalam rangka penilaian IEC yang akan dilakukan selama 36 jam, terlebih dahulu dilakukan acara pembukaan yang dihadiri oleh seluruh Pejabat eselon I dan II, observer, classifier, serta beberapa undangan lainnya pada Selasa (26/11). Pemindaian tangan (hand scanner)  yang dilakukan oleh Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Bagus Puruhito, Perwakilan dari Sekretariat INSARAG, dan Mentor Tim SAR Indonesia dari Angkatan Pembangunan Sipil Singapura MR. Kadir Maideen menandakan penilaian IEC pada 27 – 28 November resmi dibuka.
 
Penilaian mensimulasikan tanggapan INASAR kepada Jakapura (negara fiktif) yang mengalami gempa untuk membantu pihak emergency setempat yang berwenang menangani penyelamatan korban terjebak. Selain itu juga mengkoordinasikan penyebaran penyelamatan internasional dan tim bantuan yang menangani bencana gempa bumi.
 
Dalam simulasi semua personil tim INASAR tetap melakukan seluruh kegiatan sesuai dengan prosedur mulai dari pemeriksaan medis, pemberangkatan ke bandara, loading barang sampai nanti seluruh personil tiba di lokasi dan mengevakuasi korban.

Kabasarnas dalam sambutannya berharap penilaian yang dilakukan 2 hari ke depan akan berjalan sukses sehingga dapat meningkatkan kesadaran mengenai metodologi respon bencana INASAR di kancah lokal, nasional, maupun internasional di daerah yang terkena dampak.